Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net
Tampilkan postingan dengan label Kabar NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar NU. Tampilkan semua postingan

26 Mei 2013

Pendekar Pagar Nusa Siap Gantikan Kiai diPenjara



Jombang, NU Online
Kabar kiai NU diperiksa Bareskrim Polri hingga terancam bui membuat sejumlah pihak tergerak memberikan dukungan. Apalagi itu melibatkan Ketua PCNU Kota Malang, KH Marzuki Mustamar dan KH Irfan Soleh, salah satu pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.


“Kita sepenuhnya siap membela para kiai NU. Jika sampai ada kiai dipenjara karena dakwahnya, para pendekar Pagar Nusa siap menggantikannya dipenjara agar para kiai itu bisa tetap bebas dan meneruskan dakwahnya,” kata KH Ali Maksum (Gus Ali) ketua Ikatan Pencak Silat NU (IPSNU) Pagar Nusa Jombang, di Denanyar, Sabtu (25/5) kemarin.

Lebih dari itu pun pihaknya mengaku siap. “Kalau memang genderang perang yang ditabuh, kita tak akan pernah mundur,” tandasnya. Menurutnya, tidak sekali dua kali para pendekar Pagar Nusa bertaruh nyawa demi membela perjuangan kiai NU. “Tidak usah banyak kata, asal kiai yang memerintah, kita pasti berangkat,” tegasnya.

Meski demikian, pihaknya meminta agar semua elemen NU tidak terrpovokasi. “MTA itu kecil, jangan sampai kita terprovokasi hingga justru melakukan tindakan yang menodai kebesaran dan keharuman nama NU. Tapi kita tetap tak boleh diam saja,” tandasnya.

Segala kemungkinan, menurutnya harus tetap diantisipasi. “Kita tingkatkan kewaspadaan dan persiapan. Tapi jangan sampai terprovokasi,” ucapnya.

Karena proses hukum masih berjalan, ia berharap semua elemen NU ikut memantau proses tersebut. “NU juga harus memberikan pendampingan secara hukum kepada para kiai itu. Proses hukum harus dilawan dengan hukum pula. Yang lain-lain itu urusan belakangan, tidak usah khawatir,” paparnya.

Dia menegaskan, dari dulu sikap NU tidak pernah agresif. “Kasarannya kita ini tidak mencari musuh, tapi musuh datang kita hadapi. Ceramah Kiai Marzuki itu dalam rangka membentengi umat karena dalam setiap ceramahnya MTA selalu mengharam-haramkan perilaku keagamaan warga NU. Kalau itu dilaporkan polisi, semua warga NU bisa balik melaporkan MTA ke polisi,” pungkasnya. 

Sumber : NU Online

Ketika MTA Laporkan Kiau NU ke Bareskrim Polri



Jombang, NU Online
Kabar mengejutkan datang dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang. Salah satu pengasuhnya, KH Irfan Soleh (Gus Irfan), dikabarkan diperiksa Bareskrim Mabes Polri terkait laporan dari kelompok  yang menamakan diri MTA yang berpusat di Solo.
Saat ditemui di kantor yayasan kemarin, Pengasuh ribath Al-Hamidiyah Bahrul Ulum yang juga ketua yayasan PPBU ini membenarkan kabar tersebut. ’’Iya, saya memang dimintai keterangan Bareskrim Polri,’’ ucapnya. Namun itu sudah berlangsung sebulan lalu. “Saya dimintai keterangan pada Selasa 23 April 2013,” bebernya.

Ia mengaku diperiksa selama hampir sembilan jam. “Saya masuk pukul 08.00 pagi dan baru keluar pukul 16.30,’ jelasnya.

Seingatnya, ada 27 pertanyaan yang diajukan penyidik kala itu. “Saya juga diminta menandatangani BAP (berita acara pemeriksaan),” ungkapnya. Namun dari 27 pertanyaan yang diajukan, yang dia tandatangani di BAP hanya belasan. “Di BAP sekitar 12 pertanyaan saja, karena sepertinya diringkas,” jelasnya.

Begitu datang, ia ditanya terkait perasaannya mendapat panggilan Bareskrim Polri. “Ya kaget, karena belum pernah,” ucapnya mengulangi jawabannya.

Selanjutnya, ia ditanya langkah yang dilakukan pasca menerima panggilan tersebut. “Saya jawab setelah terima panggilan saya ke Polres Jombang untuk konsultasi, hasilnya, saya diminta memenuhi panggilan itu. Makanya saya datang,” bebernya.

Pertanyaan penyidik selanjutnya mulai masuk dalam materi pemeriksaan. Mula-mula, dia diminta menyaksikan rekaman video. “Video itu berisi ceramah KH Marzuki Mustamar (Ketua PCNU Kota Malang) pada acara haflah akhirussanah dan Harlah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ke 186 pada 2011 silam,” terangnya.

Ia lantas dikonfirmasi terkait poin ceramah Kiai Marzuki yang menerangkan tentang Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) yang berpusat di Solo. Pada ceramahnya, Kiai Marzuki mengulas beberapa pandangan MTA yang tak sesuai dengan NU.

Misalnya pandangan MTA bahwa anjing tidak najis karena tak ada teks Al-Qur’an yang menyebutkannya. Kemudian tentang tahlilan dan ziarah kubur yang diharam-haramkan MTA dalam setiap pengajiannya. Sampai-sampai ada statemen bahwa zina lebih baik dibanding tahlilan.

“Poin-poin ceramah Kiai Marzuki yang seperti itu dianggap mencemarkan nama baik MTA. Makanya mereka lantas melapor ke Bareskrim Polri,” bebernya.

Kiai Marzuki dilaporkan dengan tudingan berlapis yakni penyebar fitnah, pencemaran nama baik, institusi dan pribadi. Lalu menyebabkan perasaan tidak nyaman. Juga pelanggaran undang undang IT dengan ancaman 6 tahun penjara.

“Pelapornya atas nama Drs Medi selaku sekretaris MTA,” kata Gus Irfan. Ia sendiri mengaku tak kenal dengan Medi.

Ia pun sempat ditanya penyidik apakah setuju dengan isi ceramah Kiai Marzuki. “Saya jawab, untuk penguatan jamiyah NU, saya setuju. Karena memang ceramahnya di Tambakberas yang merupakan tempat pendiri NU. Hadirin yang mendengarkan juga dari para santri, alumni dan undangan yang seluruhnya NU,” tegasnya.

Ia lantas dicecar terkait perannya dalam materi ceramah itu. “Saya ditanya apakah menyiapkan teks ceramahnya dan mengarahkan isi ceramah Kiai Marzuki itu. Tentu saya jawab tidak. Tidak ada kultur seperti itu di pesantren. Ilmu kiai justru mampet kalau bicaranya diarahkan dan dibatasi. Saya tegaskan bahwa kiai yang diundang ceramah di Tambakberas itu pilihan. Dan kita mengakui keilmuan Kiai Marzuki. Kita yakin beliau tak akan bicara tanpa pijakan,” paparnya.

Ia juga mengaku diminta menjelaskan perannya memfasilitasi pidato Kiai Marzuki. “Saya tegaskan kita ini memang yang mengundang. Namun untuk isinya, itu kita serahkan sepenuhnya pada beliau,” tutur kiai 52 tahun yang dikaruniai empat orang anak ini.

Gus Irfan mengaku tidak gentar dengan pemeriksaan itu. Termasuk seandainya ikut dijerat dengan tuduhan memfasilitasi pidato yang dianggap merugikan pihak lain tersebut. “Kalau saya ikut dituduh, ya nanti kita hadapi secara hukum. Yang jelas jangan sampai kejadian semacam ini memupus semangat warga NU untuk menggelar pengajian-pengajian. Karena ruhnya NU ya ada dalam pengajian-pengajian itu,” tegasnya.

Foto: Gus Irfan ketika berada di kediamannya.
Sumber : Nu Online

21 Mei 2013

Presiden Hormat Mbah Hasyim



Jakarta, NU Online
Atas nama kepala negara, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan hormat dan takzimnya kepada pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari yang akrab disapa Mbah Hasyim.
Bagi negara, KH Hasyim Asyari bukan sekadar tokoh agama Islam, tetapi juga pelopor pergerakan kemerdekaan Indonesia, katanya.
SBY menyampaikan hal itu usai menonton tayangan perdana film 'Sang Kiai' yang menampilkan KH Hasyim Asy'ari sebagai tokoh utama dalam film tersebut di Epicentrum XXI, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/5) sore.
Berkat jasanya dalam mengobarkan semangat rakyat melawan tentara Sekutu yang mencoba menduduki kembali Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan, KH Hasyim Asyari mendapat bintang penghargaan sebagai pahlawan nasional dari Pemerintah Republik Indonesia.
Peristiwa perlawanan rakyat yang dijiwai fatwa Resolusi Jihad NU dikenal dengan peristiwa 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

“KH Hasyim Asyari merupakan guru tulen agama. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan hidupnya,” tambah SBY di hadapan penonton yang terdiri dari beberapa menteri, jajaran PBNU, dan pengurus lembaga, lajnah, dan badan otonom NU.

SBY sebagai Kepala Negara RI mengungkapkan, KH Hasyim Asy'ari memiliki pandangan hidup yang luas. Dengan demikian, sikap, tindakan, dan pikiran KH Hasyim Asyari mengandung kebenaran.

Mbah Hasyim merupakan sosok ulama yang penuh dengan kebijaksanaan. Kalau mau diuraikan, pemaparan kebijaksanaan Mbah Hasyim akan memakan tempo yang bahkan lebih panjang dari durasi film yang ditayangkan, tandas SBY disambut tepuk tangan sedikitnya 100 hadirin.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Sumber : Nu Online

19 Mei 2013

41 Siswa Sekolah Pinggiran Siap ikuti Sanlat GP Ansor


Jember, NU Online
Sebanyak 41 siswa siswi dari sekolah pinggiran di kawasan Jember selatan siap mengikuti kegiatan Pesantren Kilat - Bimbingan Pasca Ujian Nasional (Sanlat - BPUN) yang dilaksanakan kerjasama PC GP Ansor Kencong, Yayasan Mata Air dan Kemendikbud RI.

Kegiatan  Bimbingan yang dipusatkan di kantor PC GP Ansor Kencong dan beberapa Pesantren di kawasan Kencong tersebut direncakan akan berlangsung selama satu bulan penuh, dibuka secara resmi oleh RAis Syuriyah PCNU Kencong KH Khoir Zad Maddah, di Pesantren Nurus Salam Jombang.

Menurut ketua panitia pelaksana Sanlat, Asnawan, kegiatan sanlat ini diikuti oleh para peserta yang semuanya berasal dari sekolah pinggiran, dan mayoritas pesertanya adalah tinggal di pelosok desa dan pesisir pantai.

Pengajar di STAIN dan Poltek Negeri Jember berharap lulusan Sanlat ini nantinya ketika lulus dari perguruan tinggi bisa mengubah wajah desa tempat tinggalnya menjadi sebuah desa yang maju dengan pola pikir akademis dan berjiwa religius.

Sementara itu , dalam taushiyahnya KH Khoir Zad Maddah mengapresiasi kegiatan Sanlat ini, “ Saya berharap, walaupun hanya satu bulan pelaksanaan sanlat ini, yang penting adik-adik calon mahasiswa nanti bisa mengamalkan ilmu dan amaliyah keislaman ahlussunnah wal jamaah sendiri di rumah dan kampusnya masing-masing”.

Lebih lanjut Gus Ya’, panggilan akrab Rais Syuriyah PCNU Kencong ini mengatakan, bahwa setinggi apapun ilmu yang diperoleh haruslah bisa membawa kedekatan kita  kepada Allah SWT.

Ketua PC GP Ansor Kencong Abd. Rohim, dalam sambutanya menguraikan banyak hal terkait bagaimana menghadapi lingkungan baru di perguruan tinggi nantinya.

“Banyak pelajar yang tadinya begitu lekat dengan dunia keislaman, begitu masuk perguruan tinggi, apalagi jauh dari orang tua, sudah meninggalkan ajaran agamanya. Oleh karena itu, kegiatan sanlat ini, disamping mengajari adik-adik bisa mengerjakan soal-soal ujian, diharapkan nantinya bisa memahami dan menghadapi dunia baru, khususnya pergaulan dengan mahasiswa dari berbagai daerah dengan adat istiadat yang berbeda pula,” urai Abdu Rohim mengakhiri sambutannya.

Another Templates

-::DESCRIPTION
-::DATE
 

Copyright © 2013 Ormas Pemuda Islam